Skip to content

Dampak negatif kelas campur

July 4, 2011

Anak usia 8 tahun apalagi 15 tahun, rta – rata sudah mulai matang mengkhayal lawan jenisnya. Sambil bermain mereka saling menceritakan lawan jenisnya masing-masing. Mereka menceritakan kelebihan-kelebihan lawan jenisnya, mulai dari kecantikan, kegantengan, pustur tubuh, prestasinya, dan segala hal yang membuat mereka tertarik kepada lawan jenisnya. Hal ini terjadi baik di sekolah umum maupun madrasah dan pesantren. Lebih-lebih di usia 21 tahun, anak akan lebih matang dalam mengkhayalkan lawan jenisnya. Usia 8-21 tahuninilah yang dikatagorikan sebagai usia remaja.

Pada usia remaja ini seorang sudah mulai secara transparan mengungkapkan isi hatinya kepada lawan jeninya, baik dengan menitip salam lewat temanya, sms, surat, e-mail, facebook, twitter, dan cara-cara lain yang terkadang diluar dugaan orang tuanya, apalagi dengan kencanggihan teknologi saat ini. Sang anak mulai terpecah konsentrasi belajarnya, bahkan waktunya habis untuk berkomunikasi dengan lawan jenis yang disukainya. Maka jnagan heran bila sang anak mulai suka terlambat sekolah, setelah di sekolah pun terkadang lemas dan tidak bergairah lagi mengikuti pelajaran karena dihadang oleh rasa kantuk akibat semalam sedikit tidur dan berpikir tentang lawan jenis yang disukainya. Akibat negatif dari keadan ini ialah, siswa mulai ketinggalan pemahamannya terhadap materi pelajaran sehingga mulailah ia mengalami kesulitan belajar, inilah awal dari”malapetaka” anak sehingga ia tidak bergairah lagi mengikuti pendidikan di sekolah karena beban pelajaran yang semakin menumpuk, ditambah lagi waktunya yang habis untuk berkomunikasi dengan lawan jenisyang disukainya. Orang tua pun mulai merasa heran, bahkan tidak terkecuali guru di sekolah mulai bertanya- tanya tentang anak tersebut, kenapa siswa ini yang tadinya rajin dan bersemangat sekolah, sekarang jadi bermalas-malasan bahkan prestasinya sangat menurun? Ketika anak yang bersangkutan ditanya,” Kenapa kamu seperti ini?” Dia menjawab,” Tidak ada apa-apa, pak.Biasa- biasa saja!”Jawaban yang sungguh menyimpan mistei. Orang tua dan guru di sekolah sekolah kehabisan cara untuk mengungkap itu semua, sementara anak merasa malu untuk berkata jujur terhadap apa yang dirasakannya. Lebih baik menyembunyikan perasaanya dan sedikit berdusta, itu lebih dirasakan nyaman baginya.

From → Pendidikan

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: